Linguis is Bahasa
Kebahasaan adalah pintu ilmu
Senin, 22 Oktober 2012
Jumat, 28 September 2012
Motivation
Bismillah...
Allah Ta'ala..
menguji keihklasan dalam kesendirian...
memberi kedewasaan ketika masalah berdatangan...
melatih ketegaran dalam kesakitan...
bersemangatlah dalam menggapai apa-apa yang bermanfaat bagimu..
Pemenang selalu keluar mengambil resiko dan membuat banyak hal terjadi, mereka bersedia mengambil tindakan atas impian mereka
kesulitan sebesar apapun akan terasa wajar bagi jiwa yang tetap melebihkan syukur dari pada mengeluh..
semangaaaatt ^_^
Allah Ta'ala..
menguji keihklasan dalam kesendirian...
memberi kedewasaan ketika masalah berdatangan...
melatih ketegaran dalam kesakitan...
bersemangatlah dalam menggapai apa-apa yang bermanfaat bagimu..
Pemenang selalu keluar mengambil resiko dan membuat banyak hal terjadi, mereka bersedia mengambil tindakan atas impian mereka
kesulitan sebesar apapun akan terasa wajar bagi jiwa yang tetap melebihkan syukur dari pada mengeluh..
semangaaaatt ^_^
Jumat, 21 September 2012
History of linguis
Sejarah
Badan Bahasa
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan, merupakan instansi pemerintah yang ditugaskan untuk
menangani masalah kebahasaan dan kesastraan di Indonesia. Sebagai badan yang
telah lama menangani masalah kebahasaan dan kesastraan, Badan Bahasa mempunyai
sejarah panjang. Berikut ini dikemukakan sejarah perkembangan Badan Bahasa.
- Tahun 1930
Usaha penelitian dalam bidang bahasa dan budaya telah dilakukan oleh para
sarjana Belanda, baik pemerintah maupun swasta. Pada tahun 1930-an
pemerintah kolonial Belanda sudah mulai mengadakan penelitian tentang
kebudayaan yang ada di Indonesia. Penelitian itu disalurkan melalui Lembaga
Pendidikan Universiter, Kantoor voor Inlandsche Zaken, en Oudheidkundige
Dienst. Sementara itu, usaha swasta sejak tahun 1930 diwakili oleh Yayasan
Matthes, yang pada tahun 1955 namanya berubah menjadi Yayasan Sulawesi Selatan
Tenggara yang berkedudukan di Makassar (Ujung Pandang). Yayasan itu bertujuan
mengadakan penelitian bahasa dan kebudayaan daerah Makassar. Selain Yayasan
Matthes, ada yayasan yang mempunyai tujuan yang sama, yaitu Yayasan Kirtya
Liefrinck van der Tuuk yang berkedudukan di Singaraja, Bali, di bawah pimpinan
Dr. R. Goris. Ketua yayasan itu akhirnya bekerja sama dengan cabang lembaga
yang berada di bawah naungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
- Tahun 1947 (Instituut voor Taal en Cultuur Onderzoek)
Dari masa ke masa, peristiwa bahasa dan kebudayaan Indonesia menarik
perhatian para sarjana. Pada tahun 1947 Fakultas Sastra dan Filsafat yang pada
saat itu berada di bawah naungan Departemen van Onderwijs, Kunsten en
Wetenschappen (Kementerian Pengajaran, Kesenian, dan Ilmu Pengetahuan)
meresmikan pembentukan suatu lembaga yang disebut Instituut voor Taal en
Cultuur Onderzoek (ITCO) yang bertujuan menampung kegiatan ilmiah universitas,
terutama dalam bidang bahasa dan kebudayaan.
Lembaga itu dipimpin oleh Prof. Dr. G.J. Held yang kemudian menjadi
pemimpin umum. ITCO mempunyai tiga bagian, yaitu (1) Bagian Ilmu Kebudayaan,
(2) Bagian Ilmu Bahasa dan Kesusastraan, dan (3) Bagian Leksikografi. Kegiatan
yang dilakukan ITCO, selain penelitian bahasa dan kebudayaan, ialah penyalinan
kembali naskah yang ditulis di daun lontar yang berasal dari Yayasan Kirtya
Liefrinck van der Tuuk, naskah yang berasal dari Sono Budoyo, Yogyakarta,
dan naskah dari Yayasan Matthes, Makassar. Di samping itu, ITCO membuat
film tentang tulisan sastra daerah, seperti tulisan Aceh, Batak Simalungun,
Melayu, Makassar, dan Bugis. ITCO juga melakukan tukar-menukar film di Leiden,
Pretoria, Kairo, dan New York. Kegiatan lain yang dilakukan ITCO ialah berusaha
menarik perhatian para sarjana luar negeri untuk mengadakan penelitian ilmiah
dan penerbitan tentang bahasa dan kebudayaan. Kegiatan itulah sebenarnya yang
mengawali kegiatan kebahasaan dan kesusastraan yang dilakukan oleh lembaga
bahasa yang tumbuh kemudian. Pada tahun 1952 ITCO digabung dengan Bagian
Penyelidikan Bahasa, Balai Bahasa Yogyakarta, menjadi Lembaga Bahasa dan
Budaya.
- Tahun 1947 (Panitia Pekerja)
Pada tahun 1947 Mr. Soewandi selaku Menteri Pendidikan, Pengajaran dan
Kebudayaan menugasi R.T. Amin Singgih Tjitrosomo untuk menyiapkan pembentukan
suatu lembaga negara yang menangani masalah pemeliharaan dan pembinaan bahasa
Indonesia dan bahasa daerah. Namun, pembentukan tersebut belum dapat
dilaksanakan karena pada saat itu para ahli dan sarjana bahasa banyak yang
mengungsi ke luar kota Jakarta. Persiapan yang telah dilakukan baru sampai pada
pembentukan Panitia Pekerja berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan,
Pengajaran dan Kebudayaan Nomor 700/Bhg.A. tanggal 18 Juni 1974. Panitia
Pekerja itu merupakan satu unit yang dikepalai oleh Mr. St. Takdir Alisjahbana
dengan R.T. Amin Singgih Tjitrosomo sebagai sekretaris, dan dibantu oleh lima
orang anggota, yaitu Adinegoro, W.J.S. Porwadarminta, Ks. St. Pamuntjak, R.
Satjadibrata, dan R.T. Amin Singgih Tjitrosomo.
- Tahun 1948 (Balai Bahasa)
Ketika terjadi pendudukan tentara Belanda, Panitia Pekerja di Jakarta belum
berhasil membentuk suatu lembaga penelitian bahasa seperti yang diharapkan.
Baru beberapa bulan setelah Pemerintah Republik Indonesia pindah ke Yogyakarta,
Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan, Mr.
Santoso, menugasi R.T. Amin Singgih Tjitrosomo untuk menyiapkan pembentukan
lembaga bahasa secara lengkap. Beberapa bulan setelah itu, dibentuklah suatu
lembaga otonom yang berada langsung di bawah Jawatan Kebudayaan, Kementerian
Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan. Lembaga tersebut bernama Balai Bahasa,
yang diresmikan pada bulan Maret 1948 di Yogyakarta atas dasar Surat Keputusan
Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan, Mr. Ali Sastroamidjojo, Nomor
1532/A tanggal 26 Februari 1948. Pemimpin umum Balai Bahasa mula-mula adalah
P.F. Dahler alias Amin Dahlan, kemudian R.T. Amin Singgih Tjitrosomo sebagai
pejabat sementara. Karena P.F. Dahler meninggal dunia, selanjutnya pemimpin
umum dipegang oleh Prof. Dr. Prijana. Adapun sekretaris Balai Bahasa adalah
I.P. Simandjuntak. Balai Bahasa mempunyai empat seksi, yaitu (1) Seksi Bahasa
Indonesia, (2) Seksi Bahasa Jawa, (3) Seksi Bahasa sunda, dan (4) Seksi Bahasa
Madura. Tugas dan kegiatan Balai Bahasa ialah (1) meneliti bahasa Indonesia dan
bahasa daerah, baik lisan maupun tulis, baik yang masih hidup maupun yang sudah
tidak digunakan lagi, (2) memberi petunjuk dan pertimbangan tentang bahasa
kepada masyarakat, dan (3) membina bahasa. Pada saat itu Balai Bahasa sudah
mempunyai kantor cabang yang berkedudukan di Bukittinggi.
- Tahun 1952 (Lembaga Bahasa dan Budaya)
Atas dasar Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 1
Agustus 1952, Balai Bahasa menjadi bagian Fakultas Sastra, Universitas
Indonesia. Tugas Balai Bahasa itu dilaksanakan oleh Lembaga Bahasa dan Budaya,
yang merupakan gabungan dari Lembaga Penyelidikan Bahasa dan Kebudayaan (ITCO)
dan Bagian Penyelidikan Bahasa, Balai Bahasa, dan Jawatan Kebudayaan. Pimpinan
Lembaga Bahasa dan Budaya ialah Prof. Dr. Prijana yang merangkap sebagai Dekan
Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Sejak tanggal 1 Mei 1957--karena beliau
diangkat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan--jabatan
pimpinan Lembaga dipegang oleh Prof. Dr. P.A. Hoesein Djajadiningrat yang juga
merangkap sebagai guru besar Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Jabatan
sekretaris umum dipegang oleh Darsan Martadarsana dan pada tahun 1956
digantikan oleh Sjair. Pada tahun 1958 Sjair, karena pensiun, diganti oleh Dra.
Lukijati Gandasubrata. Lembaga Bahasa dan Budaya mempunyai struktur oraganisasi
yang lebih baik daripada Balai Bahasa. Lembaga Bahasa dan Budaya mempunyai
tujuh bagian dengan tiga cabang. Bagian tersebut ialah (1) Bagian Penyelidikan
Bahasa dan Penyusunan Tata Bahasa, (2) Bagian Lesksikografi, (3) Bagian
Penyelidikan Kebudayaan, (4) Bagian Komisi Istilah, (5) Bagian Penyelidikan
Kesusastraan, (6) Bagian Perpustakaan, dan (7) Bagian Terjemahan.
- Tahun 1959 (Lembaga Bahasa dan Kesusastraan)
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor
69626/B/S, tanggal 1 Juni 1959, Lembaga Bahasa dan Budaya berganti nama menjadi
Lembaga Bahasa dan Kesusastraan. Sejak itu lembaga tersebut beserta cabangnya
terlepas dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia dan langsung di bawah
Departemen Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan. Bagian Bahasa, Jawatan
Kebudayaan dilebur dan pegawainya masuk ke Lembaga Bahasa dan Kesusastraan.
Demikian pula, sejak bulan Juni 1964, Urusan Pengajaran Bahasa Indonesia dan
Daerah, Jawatan Pendidikan Umum, dimasukkan ke dalam lembaga itu.
Pimpinan pertama Lembaga Bahasa dan Kesusastraan adalah Prof. P.A. Hoesein
Djajadiningrat dan Sekretaris Umum Dra. Lukijati Gandasubrata. Pada tahun 1960
jabatan pimpinan umum dipegang oleh sekretaris umum karena pimpinan umum
meninggal dunia. Pada tahun 1962 Dra. Lukijati Gandasubrata pindah ke Semarang.
Pada tahun 1966, pimpinan Lembaga Bahasa dan Kesusastraan itu digantikan oleh
Dra. S.W. Rudjiati Muljadi. Lembaga Bahasa dan Kesusastraan terdiri atas
delapan urusan, yakni (1) Urusan Tata Bahasa, (2) Urusan Peristilahan, (3)
Urusan Kesusastraan Indonesia Modern, (4) Urusan Kesusastraan Indonesia Lama,
(5) Urusan Bahasa Daerah, (6) Urusan Perkamusan, (7) Urusan Dokumentasi, dan
(8) Urusan Terjemahan.
7. Tahun 2010
(Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa)
Pada tahun 2009 Pemerintah dan DPR RI periode 2004 - 2009 mengesahkan
Undang-Undang Nomor 24 tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara.
Serta Lagu Kebangsaan. Dengan terbitnya Undang-Undang Nomor 24 tahun 2009 dan
Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, dan Fungsi
Kementerian Negara serta Susunan Organisasi, Tugas, dan Fungsi Eselon I
Kementerian Negara, Pusat Bahasa berganti nama menjadi Badan Pengembangan dan
Pembinaan Bahasa dibawah Kementerian Pendidikan Nasional. Pusat Bahasa yang
dulu secara organisasi berada di tingkat Eselon II kini setelah menjadi Badan
Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menjadi unit utama (Eselon I) di lingkungan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Dengan mengacu Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 dan Peraturan Presiden
Nomor 24 Tahun 2010, Agus Dharma, S.H., Ph.D. diangkat sebagai Pelaksana Tugas
(Plt.) Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dengan Sekretaris Badan
Bahasa, Dra. Yeyen Maryani, M.Hum., Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan,
Prof. Dr. Cece Sobarna, dan Kepala Pusat Pembinaan dan Pemasyarakatan, Qudrat
Wisnu Aji, S.E, M.Ed.
Karena Plt. Kepala Badan Bahasa pada bulan Desember 2011 memasuki masa
purnabakti, berdasarkan Surat Perintah Mendikbud Nomor 327/MPN.A4/KP/2011,
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dijabat oleh Wakil Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan yang membidangi kebudayaan, Prof. Ir. Wiendu Nuryanti,
M.Arch. Ph.D., sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Badan Pengembangan dan
Pembinaan Bahasa.
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mempunyai 1 Sekretariat Badan
dengan 4 Kepala Bagian dan 12 Kepala SubBagian serta 2 Kepala Pusat dengan 6
Kepala Bidang dan 12 Kepala SubBidang. Di samping itu, Badan Bahasa memiliki 17
balai bahasa dan 13 kantor bahasa.
Langganan:
Postingan (Atom)